Saya berkesempatan untuk mengadakan tugas ke daerah, tepatnya ke Angkola Timur, Sipirok, Arse dan Saipar Dolok Hole dalam rangka urusan kantor. Berangkat pagi hari sekitar pukul 08.00 Wib, dengan cuaca yang terkadang bersahabat dan lebih banyak tidak bersahabatnya, mengendarai suzuki thunder kepunyaan kantor, perjalanan sampai Sipirok, sebagai ibukota Tapanuli Selatan sesuai amanat UU pemekaran Tapsel-Palas-Paluta, berjalan mulus.
Namun beranjak menuju Arse, pada titik titik tertentu, perut anda harus ekstra hati-hati menahan lonjakan tiba-tiba atau karena kendaraan anda menghindari lubang.
Beberapa titik terutama di turunan setelah Sibadoar simpang gereja GKPA ke kiri, dan beberapa titik setelah Hasang sebelum memasuki Bunga Bondar. Genangan air, seperti yang kami lewati harus dilalui extra hati-hati. Misalnya di Arse, beberapa meter setelah areal poken arse, ada titik rusak yang harus dilewati perlahan-lahan. Bahkan ada jembatan darurat tepatnya sebelum memasuki Arse, karena perbaikan, harus menggunakan potongan pohon kelapa yang dirapatkan. Sialnya, ada pemuda setempat yang masih menyodorkan kardus bekas untuk meminta uang kepada pengendara yang lewat, padahal jelas-jelas ini proyek pemerintah.
Titik rusak berikutnya terdapat pada beberapa meter setelah areal SMA 1 Arse didepan Puskesmas. Ada 2 lubang, lebih tepatnya kolam ikan menganga. Terus, turunan melewati Huta padang juga harus ekstra hati-hati, karena kalau hujan turun, jalan ini juga berubah menjadi sungai kecil. Kerusakan jalan juga ada di beberapa titik pada jalan mendaki sebelum Sipogu. Banyak titik kerusakan di Lancat sebelum kolam pemancingan. Tiba di perbatasan Arse – SDH, kalau kita masuk ke kiri ke arah Somba Debata – Padang Mandailing, pegang handle motor anda erat-erat kalau tidak terlempar dari dudukan anda. Batu batu besar , beberapa lubang, masih menganga dimana-mana.
Beranjak dari perbatasan Arse ke arah Sipagimbar, tebing sebelah kanan jalan sewaktu-waktu terjatuh dan membahayakan pengguna jalan. Aek Simadoras di sebelah kanan juga sangat tidak bersahabat di kala hujan deras di hulu. Lebih dari 3 titik longsor sering terjadi di jalan ini. Tanah yang tergelincir dari atas akan menimbun jalan, dan menghambat transportasi karena sisi sebelah kiri jalan adalah jurang tepi aek Simadoras.
Jalan mulus ada di simpang tandosan sampai ketitik sebelum masuk ke Simangambat. Si kelurahan Simangambat pun pada tanjakan sebelum simpang sekolah SMP 1 SD Hole, masih rusak. Juga di beberapa titik di pasar Simangambat.
Jalan mulus kembali ada sebelum memasuki simpang Pondok Pesantren Darul Mursyid, sampai ke Sipagimbar. Pemandangan indah kaki gunung yang menjulang di sebelah kanan jalan sungguh memberikan kepuasan mata, seolah melupakan perjalanan yang berat tadi. Meskipun di beberapa titik sebelum Sipagimbar masih ada kolam di tengah jalan.
Kami sampai di Sipagimbar, dikurangi waktu selama kami berhenti di Sipirok dan Arse karena kehujanan, total ada sekitar 2,5 jam.
Melelahkan!
















10 komentar
Pengumpan komentar untuk artikel ini
20 November 2009 pada 11:00 am
naMorai
Ups..
Salam kenal,,
au alak sipagimbar.. donok tu masojid i bagasna.
(mantap jg ada halak hamian yg nulis blog, he3..)
28 Desember 2009 pada 3:52 pm
muksin harahap
salam marsitandaan au SI dangol ni raha sian simanosor julu..mabia kabar ni aek mandala?
9 Agustus 2010 pada 3:05 pm
wilmar marpaung
Untuk Sipagimbar Nauli,
Saya merindukanmu walau perjalanan menuju jantung kotamu sering mendebarkan jantung. Tgl. 4-6 Ags 2010 silam 2 malam sy mengukir mimpi disini tepatnya di desa kecil Berastagi untuk sesuatu urusan keluarga. Kemajuan mu wahai Sipagimbar setelah 65 tahun RI merdeka kuukir bak jalan seekor siput….merayap. Isuzu panther touring rakitan 2005 kupacu dr Medan merayap selama 10 jam menelusuri lika-liku tikungan jalanan berlobang, jalan longsor kutaklukkan untuk bisa bertemu denganmu. Betapa harga yg cukup mahal dan melelahkan. Bagiku rute Banjarmasin -> Medan : 2.660 mill hanya kutempuh 3,5 Jam. Katakan … TONGGO seperti apa harus kupanjatkan pada TUHANKU demi kemajuanmu. Bila berketerusan begini aku ragu anak-anakku kelak menolak mengunjungimu. Bagiku diperutmu ada sejuta essai, lima juta cerita masa kecil…. >>>>Tapi buat mereka tidak. Mereka hanya tau lobang jalanan dan dinginnya semilir malam yg membosankan. Hei Sipagimbar Nauli berbenahlah jangan biarkan kuku tanganmu menjadi panjang dan hitam. Aku tidak rela mereka memilih Tanah Lot, Taman Safari, Jatim Park, Bunaken, Pantai Gading, Pantai Waikiki,Honolulu untuk mengisi acara liburan sekolah mereka. Aku tetap mencintaimu dan akan selalu mengajak mereka pulang….kolam ikan saba lombang, saba napa, saba jae.. ku harap masih bisa mengukir sepotong essai baru buat mereka…..salam hangat buat pembaca.
1 Oktober 2010 pada 8:31 am
Mora H. Ritonga
Pak Wilmar Marpaung,
idia ma bagas ni abang di borastagi?