You are currently browsing the monthly archive for Oktober 2009.
Bersamaan dengan perayaan olop-olop GKPA 34 yang diadakan pada hari Minggu 25 Oktober 2009 di GKPA Jl Teuku Umar diadakan peresmian GKPA Resort Khusus jl Teuku Umar dengan dipimpin langsung oleh Ephorus Pdt. AL. HUtasoit, MA. Menyandang sebutan resort khusus karena resort ini hanya mempunyai jemaat di parlagutan Jl Teuku Umar dan dianggap mampu berdiri sendiri sebagai resort.
Hal ini juga merupakan amanat dari synode Am XVI bulan Juli lalu. Dengan dirangkaian dalam ibadah minggu siang, juga sebelumnya dilaksanakan penahbisan 4 orang penatua/sintua baru di jemaat ini. Juga dilakukan serah terima pendeta resort khusus setelah sebelumnya pelantikan Majelis Resort dari Pdt. Darwin Butarbutar STh kepada Pdt. Jhon H. Pakpahan, STh. Pdt Darwin sendiri sebelumnya telah dilantik menjadi pendeta resort Padangsidimpuan Tenggaran, yang merupakan resort PSP Timur dahulu minus parlagutan jl Teuku Umar.
Ada hal yang menarik ketika pelaksanaan kongres diadakan. Kalau seluruh peserta atau simpatisan yang datang ke arena kongres di Kantor pusat Lt III tentu akana melihat ornamen hiasan yang terletak paling depan di depan meja pimpinan sidang
Perhatikan, bahwa sebagian besar bahan yang dipergunakan diperoleh dari lingkangan sekitar, dengan memanfaatkan berbagai bahan yang bisa didaur ulang. Seprti botol air minuman mineral yang diisi dengan air yang diberi warna, batu utih yang sengaja dicuci bersih, sekam kayu yang banyak diperoleh dari panglong, bahkan tulisan ornamen kongres yang disusun dari bilah-bilah bambu kecil hasil kreasi naposobulung. Terima kasih untuk bantuan St. RH Ritonga yang memberikan inspirasi betapa banyak benda di sekeliling kita yang kalau dimanfaatkan tidak kurang indahnya dibandingkan dengan barang jadi serba instant dan tidak menguntungkan bagi lingkungan.

Sedih rasanya menyatakan judul tersebut dalam forum blog naposobulung ini. Bahwa kegagalan adalah puncak dari proses ketidakberhasilan dari suatu sistem. Sistem yang tidak kait mengkait, yang indikator power yang mensupply kekuatan organisasi yang kurang maksimal dan ketidakmampuan mengorganisir suatu moment. Meskipun tahun 2009 belum lah selesai, namun bisa dipastikan judul pada opini ini adalah betul adanya.
Sebenarnya proses keberhasilan, atau tepat sasarannya suatu kegiatan tentu berasal dari proses perencanaan. Masa perencanaan dari Tahun Pemuda 2009, untuk sekedar mengingatkan, adalah merupakan hasil dari synode Am GKPA 2006. Dimana tahun 2007 adalah Tahun Anak Sekolah Minggu, ditandai dengan Pekan Raya Sekolah Minggu, tahun 2009 adalah Tahun Ama dengan puncak perayaan Kongres Ama, dan tahun 2009 adalah tahun Pemuda, sedangkan Ina akan mendapat “tahun”nya pada 2010.
Nah, proses perencanaan 2009 sebagai tahun Pemuda sudah digulirkan melalui usulan dalam Rapat Majelis Pusat bulan Oktober di Pekanbaru. Di rapat tersebut, termasuk membahas dan mengevaluasi fungsi dan target Tahun Ama 2008, dan diharapkan pada Tahun Pemuda 2009 untuk lebih tajam dalam perencanaan kegiatan Tahun Pemuda secara holistik. Secara teknis bahkan diusulkan untuk membicarakan secara intensif dengan Pengurus Pusat Naposobulung dalam perencanaannya.
Namun, kenyataannya tidaklah seperti apa yang diharapkan. Sampai penghujung tahun 2008, pertemuan khusus membahas tahun Pemuda tidaklah pernah dilakukan. Target pencapaian tahun pemuda yang diharapkan mempunyai track tersendiri tidak pernah ada. Bahkan surat yang menyatakan bahwa 2009 adalah Tahun Pemuda tidak pernah dikeluarkan oleh Kantor Pusat GKPA. Hal tersebut didapati ketika diadakan rapat pengurus resort PSP Timur pada awal 2009, dan pimpinan resort menyatakan tidak ada pemberitahuan resmi tentang Tahun Pemuda. Kalau jemaat yang secara jelas ada di depan Kantor Pusat GKPA tidak mengetahui adanya Tahun Pemuda secara resmi, bagaimana dengan tempatyang lain??!!
Dalam kondisi tersebut, P3N pada penghujung tahun 2008 membat Catatan refleksi sekaligus arahan dalam Menyambut Tahun Pemuda 2009, berikut perencanaan program di tingkatan pusat supaya setiap distrik atau resort menyesuaikan dengn program di tingkatan masing-masing. Konsep tersebut secara resmi dusah disampaikan kepada Kantor Pusat untuk dapat dikirimkan ke Distrik atau Resort. Namun apa hendak dikata, jangankan terbit keluar, surat tersebut bahkan tidak tahu entah dimana letaknya.
Kalau tahun Ama masih ada selebaran melalui poster-poster atau stiker, tetapi pemuda? Jangankan stiker, untuk membuat informasi melalui surat pun tidak ada. P3N kala itu bukan tidak menutup mata atas “kejanggalan” tersebut. Melalui pertemuan lisan pun sudah disampaikan. Namun hasilnya masih kurang memuaskan. Yang ada hanyalah supaya Pemuda sendiri membuat konsep tentang Tahun pemuda bahkan sampai ke Logo, selebaran dan sebagainya. Yang perlu kita lihat bahwa seluruh Pengurus Pusat Naposobulung adalah volunteer yang paruh waktu, yang tidak bisa dipaksakan untuk melibatkan diri secara utuh, khususnya dalam waktu dan pemikiran untuk segera membuat itu.
Meskipun demikian pada April, meskipun sudah terlambat, P3N ketika itu menyampaikan surat untuk usulan logo dan berbagi hal yang perlu dilakukan untuk menyambut Tahun Pemuda 2009. Tetapi surat tinggal surat. Bahwa keputusannya bukanlah di tangan P3N karena berhubungan dengan anggaran pencetakan, yang pada akhirnya hasilnya tidak ada.
Apalagi dengan demam Synode Am XVI, sudahlah!!
Persiapan Synode yang memang membutuhkan pemikiran dan persiapan yang matang, menyingkirkan pentingnya Tahun Pemuda 2009.
Baru setelah syinode berakhir, maka perhatian kembali ke pemuda. Dimulai dengan pelantikan panitia yang jarak waktunya sangat jauh dari pengajuan usul yang disampaikan P3N kepada kantor Pusat, bergantinya usulan yang ditawarkan sebagai penanggung jawab kepanitiaan, tidak adanya personil dalam struktur organizing committe / kepanitiaan yang betul-betul fulltimer GKPA, baik itu BPH atau seksi seperti yang biasa dilakukan dalam kepanitiaan besar di Kantor Pusat, bahkan ada hamba Tuhan yang menolak untuk bergabung dalam kepanitiaan sesaat sebelum dilantik, menjadi beban pelayanan yang teramat berat bagi naposobulung. Belum lagi faktor lain seperti berbagai mutasi yang ada di tubuh pelayan GKPA, sehingga praktisnya persiapan kepanitiaan adalah sangat pelik untuk dilalui.
Namun, dengan dukungan luar biasa dari rekan pemuda dari seantero GKPA, alumni pelatihan Kepemimpinan Naposobulung 2008, alumni Bible Camp 2008, menjadi penyemangat dan pemberi kekuatan. Belum lagi dukungan naposobulung Teuku Umar yang luar biasa, dukungan dari senioren naposobulung seperti kakanda Parsaulian Tambunan, jejaring oikoumene yang telah terlibat selama ini seperti dari kakanda Gabarel Sinaga, rekan-rekan di GAMKI Sumut dan komunitas oikoumene pemuda di Padangsidimpuan.
Puncak pada pelaksanaan Kongres pada hari Minggu dengan pelantikan Pengurus Pusat baru, yang tidak dihadiri oleh satu pun Pucuk Pimpinan melengkapi rangkaian seluruh proses pelaksanaan tahun Pemuda 2009 ini. Bahkan ironisnya, moment penutupan itu sekaligus pembubaran kepengurusan persekutuan naposobulung distrik I oleh Praeses yang bersangkutan, yang disampaikan secara resmi di atas podium ketika menutup secara resmi rangkaian kongres.

Tahun pemuda 2009, padamlah sudah sebelum menyala !!!
Depan dari kiri ke kanan : Ezra E. Nainggolan (Ketum), Matur P. Hasibuan (Wkl. Sekum), Asnawi Krismastopo Harahap(Wkl. Ketum), David Hamonangan Ritonga (Sekum), Rumianna Siregar (Bendum)
Belakang (P3N 2004-2009) dari ki-ka : John Feber Simatupang SPd, Yanerio Marpaung, Bonardo Marpaung.

Bersama-sama dengan persekutuan naposobulung GKPA Jl Teuku Umar 102 Padangsidimpuan, Pengurus Pusat berkesempatan untuk mengadakan kunjungan kasih ke jemaat di Parlagutan yang ada di Sibolga sekaligus camping di pelataran pantai Kalangan.
Diadakan pada hari Sabtu dan Minggu, 12/13 September 2009, kegiatan ini didampingi oleh Ka.Biro III Pdt. JP Matondang, MTh dan guru TH Harahap. Berangkat pukul 15.00 dari Jl Teuku umar, perjalanan menuju Sibolga menempuh jarak waktu selama 2,5 jam dengan menggunakan 2 mobil dan beberapa motor dan diikuti oleh sekitar 25 naposobulung.

Merupakan rangkaian keseluruhan dari hari pertama sampai terakhr dan telah disampaikan ke redaksi Sioban barita untuk dimuat di edisi terdekat, sebelum ada gunting sensor dari dewan redaksi :
KONGRES VII PERSEKUTUAN NAPOSOBULUNG GKPA 2009
Pendahuluan
Berlangsung tangal 01 s/d 04 Oktober 2009, Kongres kali ini adalah kongres persekutuan Naposobulung yang ketujuh kalinya dilaksanakan oleh Synode GKPA. Kongres Persekutuan Naposobulung GKPA (Kongres Naposobulung) VII tahun 2009, sesuai dengan Tata Kerja dan Tata Laksana Persekutuan Naposobulung Bab IX tentang Kongres pasal 1 adalah Permusyawaratan dan Persekutuan semua anggota Naposobulung GKPA yang diwakili oleh peserta sesuai dengan jumlah yang ditentukan untuk bermusyawarah dan mengambil keputusan demi terwujudnya maksud .
Peserta Kongres (point 9) adalah :
a. Unsur naposobulung resort 5 (lima) orang
b. Utusan Pengurus Distrik 2 (dua) orang
c. Peninjau 1(satu) orang setiap resort
d. Pengurus Pusat Persekutuan Naposobulung GKPA
e. Pendeta Resort sebagai Narasumber
f. Undangan
g. Pucuk Pimpnan dan Biro III GKPA
Sehingga dari 27 Resort + 2 resort Persiapan GKPA diperkirakan peserta persidangan kongres yang adalah Baca entri selengkapnya »
Karena membludaknya peserta Kongres beberapa teman-teman terpaksa menggunakan media yang ada untuk beristirahat, termasuk lemari-lemari yang ada…….
Minggu. 04 Oktober 2009, setelah lelah bersidang dan diakhiri dengan perjamuan kudus dam dilanjutkan dengan saling berjabat tangan oleh sekitar 134 orang yang mengikuti ibadah perjamuan kudus pada jam 01.00 Minggu dinihari, tibalah saatnya hari bersejarah dalam kehidupan napasobulung GKPA.
Dirangkai dalam ibadah Minggu siang di GKPA Teuku Umar, dengan pengkhotbah Praeses Distrik I Angkola Mandailing, Pdt. L. Pasaribu, STh, kebaktian tersebut diikuti oleh seluruh peserta kongres, sehingga kapasitas gereja sendiri tidak mencukupi untuk seluruh jemaat. Setelah khotbah lalu dilanjutkan dengan pelantikan P3N yang baru, setelah sebelumnya dibacakan SK pemberhentian pengurus pusat yang lama yang dilakukan Pucuk Pimpinan yang diwakili oleh Praeses Distrik I. Terpilih P3N yang baru :
Ketua Umum : Ezra ervinawati Nainggolan, SE
Wk. Ketua Umum : Asnawi Krismastoppo Harahap
Sekretaris Umum : David Hamonangan Ritonga
Wk. sekretaris Umum : Matur Parsaulian Hasibuan
Bendahara :
Setelah ibadah selesai, seluruh jemaat dan peserta kongres menyalami Pengurus Pusat yang baru, dan kemudian dilanjutkan dengan makan siang bersama.
Pukul 14.00 rangkaian acara penutupan dilanjutkan di lt III Kantor Pusat dengan ibadah nyanyian dan doa yang dibawakan oleh Pdt. D. Butarbutar, STh. Seterusnya laporan ketua panitia pelaksana yang menyampaikan bahwa sampai hari terakhir jumlah peserta yang hadir dalam kongres ini adalah berjumlah 317 orang dari 25 resort yang berpartisipasi.
Dalam laporan tersebut juga disampaikan langsung bantuan yang dikumpulkan oleh kongres untuk koban bencana alam di sumatra barat melalui kantor pusat dan dana awal kepengurusan yang baru yang merupakan hasil kolekte perjamuan kudus sebanyak Rp. 422.000,00.
Selanjutnya kata sambutan oleh P3N yang lama, P3N yang baru, mewakili peserta yakni Sabat H Siregar dari Medan Timur, dan dilanjutkan dengan arahan dan bimbingan dari ka.Biro III, Pdt. Joseph Matondang, MTh.
Acara yang dibawakan oleh Elvida Sianturi, Amd yang merupakan bendahara kongres dilanjutkan dengan pembacaan pemenang lomba CTA, Tenis meja dan Festival Vokal Group. Dan selanjutnya ditutup secara resmi dengan pemukulan gong oleh Pucuk Pimpinan yang diwakili Praeses Distrik I, PDt. L. Pasaribu, STh.
Hari Sabtu, merupakan hari ke tiga dari 4 hari rangkaian pelaksanaan kongres naposobulung. Semenjak pgi, beberapa rombongan kecil yang khusus datang untuk mengikuti kegiatan pendamping kongers yakni Festival Vokal group mulai berdatangan, seperti dari Medan Barat, Sipirok dan beberap resort lainnya.
Dimulai dengan sessi ceramah yang dibawakan oleh Eliakim Sitorus, MSi, JPIC Consultant of UEM Regional Asia, kegiatan ini sungguh mendapat respon dari sebagian besar peserta karena banyaknya hal-hal baru yang muncul dan membawa pencerahan bagi peserta. Karena topik yang dibawakan oleh narasumber cukup membuka mata, yakni mengenai kekerasan dalam kehidupan khusunya dari sudut pandang pemuda gereja. Banyak hal yang selama ini tabu untuk disampaikan di depan khalayak ramai dapat dibuak secara gamblang dan memang harus disampaikan supaya pada akhirnya tidak salah kaprah dan memberikan dampak yang tidak bagus di kemudian hari.
Setelah rangkaian ceramah dilanjutkan dengan final CTA dan tenis meja dan pada siang hari, selepas makan siang diadakan festival Vokal group. Berakhir pukul 18.00 kegiatan ini mendapat respon yang tinggi baik dari peserta maupun penonton yang khusus datang untuk melihat festival ini.
Setelah istirahat makan malam, kegiatan dilanjutkan dengan pemilihan Pengurus Pusat periode yang baru. dimulai dengan rollcall untuk menentukan sahnya persidangan, pemilihan penanggung jawab diikuti oleh 103 peserta yang mempunyau hak suara dari 25 resort yang hadir. Seluruh peserta yang mempunyai hak suara pada malam itu wajib duduk tertib tidak meninggalkan arena persidangan sebelum selesai.
Pada bagian pemilihan Ketua Umum muncul 3 nama dari resort -resort, yakni Kenndey Lubis dari Tano Tombangan, David H. Ritonga dari resort Bungabondar dan Ezra E. Nainggolan dari resort PSP Timur.
Setelah melakukan verifikasi atas bakal calon tersebut, sdr, kenndey Lubis harus terdegradasi karena tidak memenuhi kriteria pencalonan karena tidak didukung sedikitnya oleh 3 resort yang hadir. Sedangkan 2 orang lagi maju untuk dipilih oleh Kongres VII sebagai Ketua Umum.
Melalui pemilihan satu peserta satu suara, maka terpilih Ezra E. Nainggolan sebagai Ketua Umum periode 2009-2014.
Pada pemilihan Sekretaris Umum, melalui penjaringan bakal calon dari 2 nama yang masuk terpilih rekan David Hamonangan Ritonga untuk periode 2009-2014.
Seiring dengan berakhirnya kegiatan pemilihan penanggung jawab, dan diangkatnya team formateur menentukan posisi wakil ketua, wakil sekretaris dan bendahara, berakhir pula rangkaian persidangan kongres VII PN GKPA 2009, dengan diketuknya palu sidang senayak 3 kali oleh pimpinan sidang.
Kemudian ditutup dengan Ibadah perjamuan kudus yang dibawakan oleh Pdt. Darwin Butarbutar, STh dan Pdt. R. Siregar, MMin.
Hari II kongres dimulai dengan ibadah yang dipimpin oleh Pdt. Tumpal Lubis, Sth, pendeta yang bertugas di parlagutan Sibolga resort Batang Toru. Setelah rangkaian ibadah pagi selesai dilanjutkan dengan ceramah yang dibawakan oleh salah seorang mantan Ketua Umum dan Sekretaris Umum P3N GKPA pada era 80 an, yakni Kakanda Drs. Parsaulian Tambunan, MPd. Dengan penyampaian berdasarkan pengalaman empiris selaku mantan naposobulung di berbagai wilayah, tentunya apa yang disampaikan oleh kakanda yang satu ini dapat memberikan motivasi bagi seluruh pemuda yang hadir.
Pada kesempatan tersebut, narasumber menyatakan kesediaannya untuk memberikan dana awal untuk operasional Pengurus Pusat 2009-2014 sebanyak Rp. 5.000.000,00 . Yang diharapkan akan memberi semangat yag lebih untuk melayani bagi pengurus yang baru. Narasumber juga berkenan untuk memberikan uang pembinaan bagi pemenang terbaik I s/d V dengan total Rp. 1.000.000 dan seluruh piala sebanyak Rp. 1.000.000,00
Setelah penyampaian ceramah, dilanjutkan dengan persidangan untuk mendengarkan pandangan umum dari resort-resort terhadap laporan pertanggungjawaban Pengurus Pusat, dan dilanjutkan dengan sidang komisi s/d pukul 15.00. Setelah sidang komisi dilanjutkan dengan pleno hasil seluruh komisi dan berakhir pukul 19.00.
Setelah istirahat makan malam dilanjutkan dengan kegiatan pendamping kongres yakni penyisihan pertandingan tenis meja dan CTA, sampai pukul 23.00.








nadung mandok hata