Tampak depan Sioban Barita GKPA edisi 10 untuk Juli Agustus 2011 memunculkan wajah-wajah para Ephorus HKBPA-GKPA pada periode awal sampai sekarang. Mulai dari wajah Pdt M.Pakpahan, Pdt. ZS Harahap, Pdt. GP Harahap, Pdt B. Matondang, Pdt SP Marpaung sampai dengan Pdt AL Hutasoit.Photo-photo ini juga terpampang jelas di ruangan Ephorus kita di Kantor Pusat. Merekalah para putra terbaik pilihan organisasi gereja kita yang melayani hingga gereja ini menapak pada usia 36 tahun. Dengan usia yang sudah kepala tiga tentu pemahaman organisai pelayanan ini sudahlah pada tahap yang matang dan semakin mantap untuk melayani.
Namun, sejarah mencatat pada periode Pdt ZS Harahap, HKBPA yang manjae dari HKBP na Bolon i mendapat tantangan yang sungguh luar biasa di tingkatan synode dan akhirnya merambat pada jemaat-jemaat. Patut kita jujur, dan memang sejarah haruslah menjadi hal yang terang benderang, pada periode ini HKBPA menjadi dua. Sesuai almanak GKPA, terjadi pada 10 Mei 1982, dimana satu pihak mengklaim menjadi tetap HKBPA dan pihak yang satu lagi menjadi GPA, singkatan dari Gereja Protestan Angkola. Dan patut diketahui, semangat panjaeon 1940 dan dilanjutkan realisasinya tahun 1975 tetaplah menjadi semangat dalam dua organisasi gerejawi ini. HKBPA tetap dalam koridor aturan main yang diyakininya, demikian juga GPA dalam kerangka aturan yang juga diamininya.
Pergolakan ini sedikit banyak ini menjadi hal yang membuat energi semakin terkuras dalam melayani di luat Angkola ini. GPA dalam pelayanannya menjadi gereja mandiri, mempunyai Ephorus, Sekjend dan perangkat gerejawi lainnya. HKBPA juga tetap melakukan hal yang sama. HKBPA tetap menumbuhkembangkan firman Tuhan, demikian juga GPA. Dua organisasi gereja ini, tentunya tidak bisa dilepaskan dari sejarah kita. Benturan-benturan yang memunculkan friksi ini seharusnya dapat menjadi pelajaran sejarah, dan bukan berusaha untuk mendegradasikan para pihak. Tidak bisa kita anggap bahwa apa yang telah dilakukan oleh GPA dalam perjalanan organisasinya adalah perjalanan di GPA saja. Bagaimanapun juga, GPA adalah bagian integral dari proses panjaeon HKBPA 1940 dan 1975.
Berjiwa besarnya para pemimpin kita, melalui naskah penggabungan HKBPA dan GPA dalam wadah GKPA, sesuai dengan yang tertulis di almanak GKPA patut diapresiasi para GKPAwan sekarang ini. St. MP Siregar, dalam penuturan lisannya, yang ketika itu menjadi salah satu pegawai keuangan di Kantor Pusat HKBA menceritakan betapa luar biasanya penyertaan Tuhan ketika beliau dimintakan untuk menggaet kembali para tokoh kedua gereja ini, agar dapat bersama-sama kembali, rujuk kembali, dan akhirnya memang terwujud. Beberapa kali ibadah bersama di gereja HKBPA dan GPA dilakoni beliau bersama-sama tokoh-tokoh GPA dan HKBPA. Mulai dari daerah Tano Tombangan, Sibaruang dan malah sampai di Bunga bondar Sipirok. Di Bungabondar, Pdt. GP Harahap, Ephorus HKBPA dan Pdt.MP Marpaung, Ephorus GPA bersama-sama hadir pada hari Kamis ketika ada sermon Ina Parari Kamis ketika itu. Sungguh, itu karena berkat Tuhan semata.
Akhirnya 1998 menjadi tahun rekonsiliasi HKBPA dan GPA yang melebur dalam GKPA. Sungguh penanganan konflik yang luar biasa dalam pemahaman siapa pun, ketika ego masing-masing pihak dapat dikesampingkan untuk kepentingan yang lebih besar, kepentingan Patanakkon Hata Ni Debata tu Luat Angkola.
Namun, kembali ke penghargaan dan pelajaran sejarah, GPA seolah terlupa dan tidak terekam dalam jejak sejarah di almanak kita. Kalau kita perhatikan almanak GKPA, seolah-olah GPA tidak melakukan aktivitas apapun dlam masa-masa tersebut. Tidaklah mungkin, sejak 1982 sampai dengan 1988, tidak ada kegiatan pelayanan yang dilakukan GPA. Tidaklah mungkin ada jemaat yang tidak berkembang. Tidaklah mungkin organisasi gereja ini tidak bertumbuh dan melakukan kegiatannya. Kita tentu hakul yakin semua jejak rekam ini pasti ada. Almanak GPA tentunya dan seharusnya dapat menjadi sumber tertulis dalam menjelajah kembali sejarah tersebut. Kalau pun tidak ada, para pendeta kita yang dulunya melayani di GPA  dan masih aktif serta masih ada sampai sekarang dapat menjadi saksi hidup dan sebagai temapt penelusuran akan hal tersebut. Mereka dapat menjadi narasumber ketika sumber tertulis tentang masa 82-88 di GPA ,sulit untuk didapat.
Kembali ke halaman sampul Sioban Barita kita edisi 10, seharusnya, kalau jujur terhadap sejarah, Ephorus GPA, Pdt MP Marpaung, seharusnya juga harus dimunculkan. Begitu juga photo beliau seharusnya ada di ruangan Ephorus GKPA, dan termasuk photo sekjend GPA di ruangan sekjend di Kantor Pusat, serta juga melengkapi kembali berbagai catatan-catatan dalam Almanak GKPA. Bukan dalam rangka kultus individu terhadap beliau, bukan karena kedekatan emosional semata, dan berbagai kedekatan-kedekatan lainnya, tetapi karena kita memang harus jujur terhadap sejarah, jujur terhadap pengakuan akan konflik yang terjadi pada masa lalu, dan jujur terhadap keberpihakan terhadap rekonsiliasi di tubuh GKPA. Ini seharusnya menjadi modal dasar bagi pertumbuhan iman percaya kita.
Dengan membuka mata terhadap realitas ini, generasi muda GKPA dapat secara utuh menikmati indahnya pertumbuhan gereja ini dan menjadi pelajaran sejarah yang sangat berharga bagi kita semua.

About these ads