KOMITE KHUSUS

Mungkin tidak banyak kita yang tau bahwa synode kita memiliki suatu komite yang khusus membidangi HIV-AIDS. Wajar, karena memang komite ini pun seolah-olah hanya ada ketika moment-moment tertentu diselenggarakan di Kantor Pusat.

Moment Synode Am 2006 misalnya, menjadi salah satu sarana untuk menyampaikan beberapa hal yang berkaitan dengan HIV AIDS. Dengan mengundang pembicara, sessi yang diselenggarakan di sela-sela Synode tersebut menjadi salah satu realisasi dari rencana program Komite. Menyampaikan hal yang sama di depan siswa Yayasan GKPA Abdi Masyarakat juga menjadi program yang direalisasikan tahun lalu. Disamping itu, komite melalui synode juga mengirimkan partisipan untuk mengikuti berbagai kegiatan dan pertemuan tentang HIV AIDS di berbagai wilayah yang ada. Yang terakhir, GKPA juga telah mengirimkan 2 orang partisipan mengikuti kegiatan yang berhubungan dengan HIV AIDS di Salatiga bulan Juni lalu.

PERGUMULAN BERSAMA

Meskipun sudah berjalan dan sudah melaksanakan berbagai program, dampak positif Komite ini terhadap lingkungan khususnya area Padangsidimpuan/Tapanuli Selatan belumlah begitu terasa. Diskusi dengan beberapa teman-teman pemuda antar gereja di Padangsidimpuan, tentang betapa pentingnya ada lembaga khusus yang menangani persoalan HIV AIDS serta problematikanya di tingkatan lokal. Disinilah seharusnya Komite mempunyai “kekuatan” dan “keberpihakan” serta bermanfaat bagi lingkungan sekitarnya. Komite dapat hadir dengan memberikan solusi berupa himbauan terus menerus, serta penyadaran kepada warga, khususnya yang rentan terhadap penyakit akibat hubungan seksual. Kota Padangsidimpuan sendiri, sebagai kota persinggahan, ternyata memiliki hotel, losmen, dan tempat penginapan lebih dari 50 buah. Jumlah yang banyak untuk kota sekecil Padangsidimpuan. Dedi Pardede, ketua GMKI cabang Padangsidimpuan, pada suatu kesempatan diskusi juga sangat prihatin akan tingginya pergaulan bebas di kota sekecil Padangsidimpuan. Bahkan lokalisasi dan tempat mangkal dan bertemunya para wanita penjaja cinta dengan lelaki hidung belang tidaklah sulit ditemui. Mulai dari lokasi di belakang pajak buah tepat di samping satlantas kota Padangsidimpuan, di beberpa hotel-hotel/losmen, bahkan sampai di pinggiran kota, itu belum yang ada di Kapuran, lokalisasi yang menjadi tempat khusus mereka berinteraksi.

Pergumulan inilah yang seharusnya disadari sebagai PR bagi Komite HIV AIDS GKPA. Banyak orang-orang yang telah diutus oleh GKPA mengikuti pelatihan yang berkaitan dengan HIV AIDS. Tentunya mereka mempunyai beban moral untuk mengimplementasikannya. Ketua Komite, Nelly Herawati Hasibuan SSos, mengamini bahwa satu sisi komite belumlah banyak berbaut terhadap kondisi lingkungan sekitar, namun tekad untuk terus berbuat senantiasa menjadi pergumulan komite dalam pengejawantahan programnya.

Nely Hasibuan, ketua Komite HIV AIDS GKPA

Dan komite tidak seharusnya berdiri sendiri untuk mengerjakannya. Berbagai ornamen/organisasi gerejawi di Pdangsidimpuan tentunya mau bersama-sama menuntaskan persoalan tersebut. lembaga-lembaga seperti GMKI, GAMKI, Komunitas Kaum Muda Kristen, dan berbagai perkumpulan laiinya, tentu mau bekerja bersama-sama. Bola sebenarnya sudah ada di tangan Komite HIV AIDS GKPA, tinggal bagaimana memainkannya. Apakah hanya “digoreng-goreng”, didiamkan, dibuang ke luar lapangan, atau dimainkan dalam satu team. Kita tunggu pergerakannya……………

Iklan