Ketika dunia memasuki persaingan kehidupan yang semakin bebas dan keras, manusia pun harus menyikapi dengan penuh ketegaran. Apalagi ketika lapangan pekerjaan tidak lagi seluas dulu, penduduk Indonesia yang berjumlah lebih dari 220 juta pun harus menghadapi kenyataan pahit, ketika departemen tenaga kerja menyatakan lebih dari 40 juta penduduknya adalah pengangguran – baik pengangguran murni maupun pengangguran setengah. Tidak heran apabila para penyembah teori Evolusi membuat pernyataan “Homo Homini Lupus “ dan “Survival of the fittest” untuk menyatakan betapa seleksi alam telah membuat persaingan antara manusia semakin kejam. Dimana mana kita melihat begitu banyak orang menjadi tertekan – bahkan nyaris gila – ketika mereka tidak bisa memenuhi apa yang menjadi target mereka, tidak hanya para pencari kerja yang tidak kunjung dapat memperoleh pekerjaan tapi juga para pekerja yang mulai tertekan menghadapi paksaan tenggang waktu yang harus dipenuhi.

Saya disini, tidak hendak mencoba memberitahu bagaimana cara mendapatkan pekerjaan dengan mudah atau bagaimana cara mencapai target pekerjaan yang harus Anda penuhi untuk menyenangkan atasan Anda. Tapi mencoba untuk mengajak Anda melihat apa yang paling penting untuk Anda perjuangkan dalam hidup, sehingga nantinya pun Anda akan mendapati kelegaan dan kebebasan dari tekanan hidup.

  1. Letakkan yang pertama di tempat yang pertama.

Pada saat memberikan kuliah tentang Manajemen Stress seorang dosen berdiri di depan kelas dengan membawa satu buah drum besar yang kosong. Kemudian dia berkata kepada para mahasiswanya, “Apa yang Anda lihat ?”. Semua mahasiswa terdiam dan memandang dengan heran. Salah seorang dari mahasiswa tersebut berseru, “ Sebuah drum yang kosong”. “Baiklah …”, sambung dosen tersebut. Kemudian dia memasukkan beberapa buah batu besar ke dalam drum tersebut, sampai mencapai permukaan dari drum. “ Sekarang, apakah drum ini sudah penuh … ?”, tanyanya sekali lagi kepada para mahasiswanya. Kembali semua mata saling berpandangan dan menjawab, “ Ya … drum itu sudah penuh”. “Benarkah … ?” tanya si dosen, sambil kemudian memasukkan beberapa batu krakal, yang berukuran lebih kecil dari bongkahan batu pertama ke dalam drum. Batu krakal tersebut terus di masukkan ke dalam drum sampai menyentuh permukaannya. “ Nah, sekarang … apakah drum ini sudah penuh ?”, tanyanya sekali lagi. Belajar dari pengalaman pertama, para mahasiswa tersebut menjawab, “Belum …”. “ Bagus …”, jawab sang dosen sambil memasukkan batu kerikil ke dalam drum sampai di permukaan drum tersebut. “ Bagaimana sekarang, apakah sudah penuh … ?”, tanyanya sekali lagi. “Belum …”, jawab para mahasiswanya. “ Baiklah …”, ujar dosen tersebut sembari kembali memasukkan sejumlah besar pasir ke dalam drum sampai di permukaan. “ Ok … anak-anak, sudah penuhkah drum ini sekarang … ?”, tanyanya sekali lagi. “ Ya …” jawab para murid. “ Benarkah demikian …?”, kembali dosen itu memasukkan air ke dalam drum tersebut. “ Nah, sekarang drum ini sudah penuh … “ serunya dengan tersenyum.

Baiklah, anak-anak … apakah yang kalian pelajari dari peragaan tadi tentang waktu di dalam kehidupan kita ?”, tanya dosen tersebut dengan mata memandang tegas kepada para mahasiswanya. Salah seorang dari mahasiswanya, mengacungkan tangan dan menjawab, “ Menurut saya, tidak peduli seberapa sibuknya kita mengerjakan sesuatu, selalu ada celah yang bisa dimasuki untuk mengerjakan yang lainnya”. Dengan tersenyum sang dosen memandang ke arah mahasiswanya tersebut, kemudian menggelengkan kepalanya. “ Bukan !, makna dari peragaan tersebut adalah : apabila Anda tidak meletakkan hal-hal yang utama di dalam kehidupan Anda di tempat yang pertama, maka Anda akan mengalami kesulitan untuk meletakkannya di bagian hidup Anda yang lain.”

Ada banyak dari kita yang lebih suka mengerjakan hal-hal yang kurang penting daripada melakukan hal-hal yang penting, karena ketidaktahuan kita akan arah dan tujuan hidup kita. Itu yang membuat hidup kita tidak berarti. Karena yang kita kejar dan perjuangkan bukanlah hal-hal yang akan merubah kehidupan kita.

  1. Istirahatlah sesekali untuk menikmati hidup Anda.

Pada suatu hari yang lain dosen tersebut kembali berdiri di depan kelas dengan mengangkat segelas air dan bertanya kepada para mahasiswanya: “Seberapa berat menurut anda kira segelas air ini?” Para siswa menjawab mulai dari 200 gr sampai 500 gr. “Ini bukanlah masalah berat absolutnya, tapi tergantung berapa lama anda memegangnya.” kata sang dosen. “Jika saya memegangnya selama 1 menit, tidak ada masalah. Jika saya memegangnya selama 1 jam, lengan kanan saya akan sakit. Dan jika saya memegangnya selama 1 hari penuh, mungkin anda harus memanggilkan ambulans untuk saya. Beratnya sebenarnya sama, tapi semakin lama saya memegangnya, maka bebannya akan semakin berat.” “Jika kita membawa beban kita terus menerus, lambat laun kita tidak akan mampu membawanya lagi. Beban itu akan meningkat beratnya.” lanjut dosen tersebut. “Apa yang harus kita lakukan adalah meletakkan gelas tersebut, istirahat sejenak sebelum mengangkatnya lagi”. Kita harus meninggalkan beban ! kita secara periodik, agar kita dapat lebih segar dan mampu membawanya lagi. Jadi sebelum pulang ke rumah dari pekerjaan sore ini, tinggalkan beban pekerjaan. Jangan bawa pulang. Beban itu dapat diambil lagi besok. Apapun beban yang ada di pundak anda hari ini, coba tinggalkan sejenak jika bisa. Setelah beristirahat nanti dapat diambil lagi……Hidup ini singkat, jadi cobalah menikmatinya dan memanfaatkannya. Hal terindah dan terbaik di dunia ini tak dapat dilihat, atau disentuh, tapi dapat dirasakan jauh di relung hati kita… “

Istirahat sejenak akan memberikan kelegaan yang juga nantinya akan mencharge ulang tenaga kita untuk bekerja lebih baik lagi.

Tekanan kerja yang tinggi kadangkala membuat kita terjebak di dalam ekstrim tertentu yang membuat kita semakin terperosok di dalam kefrustasian. Tindakan pemrioritasan dan istirahat adalah dua hal yang sangat penting perannya di dalam mempengaruhi kinerja kita. Dengan sejenak merenung akan prioritas kita, pekerjaan kita akan lebih terarah dan dengan sejenak beristirahat kita akan beroleh semangat baru untuk bekerja kembali. Selamat menikmati pekerjaan Anda.

Iklan